R&A : PERBEDAAN SENYAWA ORGANIK DAN SENYAWA ANORGANIK

 

A.    TUJUAN

Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu :

  1. Mempelajari tes-tes yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa tersebut.
  2. Mengamati beberapa sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik.

B.       LANDASAN TEORI

Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama, organik (Siregar, 2012).

Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis, sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut yang berada dalam bentuk senyawa polisacharida, seperti sellulosa, hemi-sellulosa, pati serta bahan pektin dan lignin. Selain itu beberapa bahan organik tanah juga mengandung protein dan beberapa senyawa nitrogen lain. Bahan organik secara umum dibedakan atas bahan organik yang relatif sukar didekomposisi karena disusun oleh senyawa siklik yang sukar diputus atau dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana, termasuk di dalamnya adalah bahan organik yang mengandung senyawa lignin, minyak, lemak dan resin yang umumnya ditemui pada jaringan tumbuh-tumbuhan; dan bahan organik yang mudah didekomposisikan karena disusun oleh senyawa sederhana yang terdiri dari C, H dan O, termasuk di dalamnya adalah senyawa dari sellulosa, pati, gula dan senyawa protein (Lestari, 2009).

Perbedaan antara senyawa organik dengan senyawa anorganik (Siregar, 2012)

No Senyawa organik Senyawa Anorganik
1 Kebanyakan berasal dari makhluk hidup dan beberapa dari hasil sintesis Berasal dari sumber daya alam mineral ( bukan makhluk hidup)
2 Senyawa organik lebih mudah terbakar, dan memberikan hasil akhir CO2, H2O, dan hasil sampingan lainnya. Tidak mudah terbakar
3 Strukturnya lebih rumit Struktur sederhana
4 Semua senyawa organik mengandung unsur karbon Tidak semua senyawa anorganik yang memiliki unsur karbon
5 Hanya dapat larut dalam pelarut organik Dapat larut dalam pelarut air atau organik
6 CH4, C2H5OH, C2H6 dsb. NaF, NaCl, NaBr, NaI dsb.
7 Umumnya bersifat non-elektrolit Umumnya bersifat elektrolit (konduktor listrik dalam larutannya)
8 Reaksi berlangsung lambat Reaksi berlangsung cepat
9 Titik didih dan titik lebur rendah Titik didih dan titik lebur tinggi

Bila bahan biologis dibakar, semua senyawa organik akan rusak; sebagian besar karbon berubah menjadi gas karbon dioksida (CO2), hidrogen menjadi uap air, dan nitrogen menjadi uap nitrogen (N2). Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam bentuk abu dalam bentuk senyawa anorganik sederhana, serta akan terjadi penggabungan antarindividu atau dengan oksigen sehingga terbentuk garam anorganik (Arifin, 2008).

Karbon atau arang mmerupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85% sampai 95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mnegandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara di dalam ruang pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi (Darmawan, 2008).

Alkohol R-OH dapat dianggap hidrolisis dari alkana R-H, maupun sebagai turunan alkali dari air H-OH. Sebagai turunan alkanan maupun air, sifat alkohol dapat menyerupai sifat air karena keasaan gugus fungsi keduanya (Anonim, 2012). Alkohol mengandung suatu oksigen sp3 dengan dua elektron valensi menyendiri, dimana senyawa ini bersifat polar (Fessenden, 1982).

Etanol merupakan zat cair, tidak berwarna, berbau spesifik, mudah terbakar dan menguap, dapat bercampur dalam air dengan segala perbandingan. Secara garis besar penggunaan etanol adalah sebagai pelarut untuk zat organik maupun anorganik, bahan dasar industri asam cuka, ester, spirtus, asetaldehid, antiseptik dan sebagai bahan baku pembuataneter danetil ester,Etanol juga untuk campuran minuman dan dapat digunakan sebagai bahan  bakar (gasohol) (Wiratmaja, 2011).

Ikatan hidrogen dapat membentuk fase baru dan menghasilkan suatu senyawa baru dalam ikatannya dengan atom lain seperti atom C, N, O, maupun ikatannya dengan atom hidrogen sendiri, antara lain dalam pembentukan benzena, air(es), amoniak dan lain-lain. Pada ikatan hidrogen tersebut terdapat karakteristik proton penyusun atomnya, yaitu gerakan-gerakan dinamis proton dalam ikatan tersebut dapat dipelajari dengan mengkaji persamaan gerak proton dalam ikatan sehingga dapat diketahui perilaku proton dalam keadaan tertentu. Ikatan hidrogen dalam molekul H2O merupakan ikatan kovalen, kajian kepadanya diperlukan untuk mengetahui bagaimana keadaan ideal dari molekul tersebut (Kurniawan, 2005).

C.      URAIAN BAHAN

a)      Akuades (FI.Ed.III hal. 96).

  • Nama Resmi             : Aqua destilata.
  • Nama Lain    : air suling
  • Rumus Molekul        : H2O
  • Berat molekul           : 18
  • Rumus Bangun         :
  • Pemerian                   : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak  berbau, tidak mempunyai rasa.
  • Penyimpanan            : dalam wadah tertutup baik.
  • Kegunaan                  : sebagai pelarut.

b)     NaCl (FI.Ed.III hal. 403).

  • Nama Resmi                         : Natrium Chloridum
  • Nama Lain                : Natrium klorida
  • Berat Molekul           : 32.04 g/mol
  • Rumus Molekul        : NaCl
  • Rumus Bangun         :
  • Pemerian                   : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur      putih; rasa asin.
  • Kelarutan           : Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin; sukar larut dalam etano
  • Penyimpanan      : Dalam Wadah Tertutup baik
  • Khasiat               : Hemodialisis
  • Kegunaan           : Sebagai Sampel

c)      AgNO3 (FI. Ed III, hal.

  • Nama Resmi            : Argenti Nitras
  • Nama Lain                : Perak nitrat
  • Berat molekul           : 168,87 g/mol
  • Rumus Molekul        : AgNO3
  • Pemerian                   : hablur transparan atau serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau dan menjadi gelap jika kena cahaya
  • Kelarutan                  : sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%)
  • Kegunaan                  : sebagai larutan baku

d)     Etanol

  • Nama Resmi                         : Etil Alkohol / etanol
  • Nama Lain                : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut
  • Berat molekul           : 46,07 g/mol
  • Rumus Molekul        : C2H5OH
  • Rumus Bangun         :
  • Pemerian                   : cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari
  • Kegunaan                  : sebagai pelarut.

e)      Kloroform

  • Nama                        : Chloroformum
  • Nama lain                  : kloroform
  • Berat molekul           : 119,38 g/mol
  • Rumus molekul         : CHCl3
  • Rumus bangun          :
  • Pemerian                   : cairan, mudah menguap; tidak berwarna; bau khas; rasa manis dan membakar.
  • Kelarutan                  : larut dalam lebih kurang 200 bagian air; mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak.
  • Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik bersumbat kaccca, terlindung dari cahaya.
  • Khasiat                      : pengawet dan zat tambahan
  • Kegunaan                  : pereaksi

f)       KI (FI. Ed. III hal. 330).

  • Nama resmi               : Kalii iodidum
  • Nama lain                  : Kalium Iodida
  • BM / RM                  : 166,00 g/mol
  • Rumus molekul         : KI
  • Rumus bangun          :
  • Pemerian                   : transparan atau tidka berwarna, opak dan putih; atau serbuk butiran putih. Higroskopis.
  • Kelarutan              : sangat mudah larut dalam air, lebih mudha larut dalam air mendiidh; larut dalam etanol (95%); mudah larut dalam gliserol.
  • Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik
  • Kegunaan                  : sebagai bahan uji

g)      Glukosa (FI. Ed. III hal.268)

  • Nama resmi               : Glucosum
  • Nama lain                  : Glukosa
  • BM / RM                  : 198,17 g/mol
  • Rumus molekul         : C6H12O6
  • Rumus bangun          :
  • Pemerian                   : hablur tidak berwarna, serbuk halus atau butiran putih; tidak berbau; rasa manis.
  • Kelarutan                  : mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol (95%) mendidih; sukar larut dalam etanol (95%).
  • Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik
  • Kegunaan                  : sebagai bahan uji

h)     HCl

  • Nama resmi               : Acidum Hydrochloridum
  • Nama lain                  : Asam klorida
  • BM / RM                  : 36,46 g/mol
  • Rumus molekul         : HCl
  • Rumus bangun          :
  • Pemerian                   : cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air, asao dan bau hilang.
  • Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup rapat
  • Kegunaan                  : sebagai bahan uji

 

 

D.      METODE KERJA

  1. 1.        Alat dan Bahan

a)      Alat.

Alat yang digunakan, yaitu :

–          Tabung reaksi

–          Pipet tetes

–          Pemanas bunsen

–          Hotplate

–          Gelas kimia

–          Cawan krus

–          Kawat tembaga

b)      Bahan.

Bahan yang digunakan, yaitu :

–          NaCl

–          Kloroform

–          Etanol

–          Ag NO3

–          Air es

–          HCl

–          KI

–          Glukosa

–          Air Liur

  1. 2.      Prosedur Kerja
    1. Deteksi unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik

2 ml etanol

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam cawan krus

–          Dibakar

Hasil..?

Air es

–          Dimasukan kedalam gelas kimia kering

–          Disimpan diatas pembakaran etanol

–          Diamati

  1. Tes Beilstein

HCl 3 M

–          Dimasukan ke tabung

–          Dimasukan kawat tembaga yang telah dipanaskan pada pemanas bunsen sebelumnya

–          Diamati

–          Langkah-langkah uji diatas diulangi untuk larutan CHCl3, KI dan air ludah

Hasil..?

  1. Perbedaan sifat karena pemanasan.

NaCl

–          Dimasukan ke cawan krus

–          Dipanaskan

–          Diamati

–          Tahap uji diulangi untuk bahan glukosa

Hasil..?

  1. Perbedaan dalam ionisasi.

NaCl 0,1 M

–          Dipipet 2 ml

–          Dimasukan ke tabung reaksi

–          Ditambahkan 3 tetes AgNO3 1%

–          Diamati

–          Tahap uji diulangi untuk bahan kloroform

Hasil..?

 

 


E.       HASIL PENGAMATAN

No Uji Perlakuan Hasil

1.

Deteksi unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik

Etanol 2 ml dibakar dan disimpan akuadesdinisn pada gelas kimia diatas cawan krus Etanol lebih cepat menguap dibandingkan air

2.

Perbedaan dalam ionisasi

  1. NaCl + Ag NO3

 

Terionisasi
  1. Kloroform + Ag NO3

 

Tidak terionisasi

3.

Tes beilstein

HCl 3M + kawat tembaga panas Reaksi positif terdapat gelembung
Kloroform + kawat tembaga panas Reaksi positif tidak terdapat gelembung
KI + kawat tembaga panas

4.

Perbedaan sifat karena pemanasan

NaCl dipanaskan Tidak terjadi perubahan
Glukosa dipanaskan Menjadi hitam

F.       PEMBAHASAN

Senyawa organik merupakan senyawa yang memiliki ikatan karbon dan hidrogen atau lebih sederhananya memiliki atom karbon sebagai salah satu unsur yang menyusun senyawa tersebut kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa yang tidak memiliki atom karbon, dalam hal ini senyawa dapat dibentuk oleh unsur logam dan logam, non logam dan logam, dan sebagainya. Senyawa organik dan anorganik memiliki sifat yang berbeda dalam merespon reaksi kimia dengan senyawa lain. Berdasarkan perbedaan ini, maka pada percobaan kali ini dilakukan beberapa uji terhadap sampel-sampel yang termasuk senyawa organik dan senyawa anorganik.

Senyawa organik yang digunakan yaitu etanol, kloroform, dan glukosa, sedangkan senyawa anorganik yang digunakan yaitu H2O, HCl, NaCl, dan KI. Uji pertama yaitu deteksi unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik, hasil yang diperoleh yaitu etanol lebih cepat mencapai titik didihnya dan terjadi penguapan dibandingkan air. Seperti yang diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi titik didih yaitu berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan yang dibentuk oleh antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin sulit dan membuat ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaitan dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga ikut andil dalam titik didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat oleh ikatan ionik atau kovalen yang bersifat kuat maka diperlukan waktu lebih untuk memutuskannya.

Etanol walaupun memiliki berat molekul yang lebih tinggi dari pada air, yaitu 46,07 g/mol tetapi lebih cepat mencapai titik didihnya dibandingkan air. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ikatan yang dibentuk oleh molekul air, dimana antara atom O pada suatu molekul akan mengikat dengan ikatan hidrogen dengan atom H pada molekul lainnya. Berdasarkan teori, ikatan hidrogen ini merupakan ikatan kovalen polar yang tingkat kekuatan ikatannya berada dibawah ikatan ionik dan ikatan ini banyak dibentuk oleh senyawa organik. Untuk memutuskan ikatan hidrogen sangat susah sebab kecenderungan atom H untuk tertarik ke atom O yang bersifat lebih elektronegativitas, sehingga ikatan ini susah untuk dilepaskan. Sedangkan pada etanol juga terjadi ikatan hidrogen pada molekulnya, mengingat etanol memiliki molekul yang hampir sama dengan air, tetapi adanya gugus alkil pada sisi lain atom O yang membuat ikatan yang dibentuk tidak sekuat ikatan yang dibentuk oleh air.

Selanjutnya dilakukan uji perbedaan dalam ionisasi. Seperti yang diketahui senyawa organik merupakan non elektolit dan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit. Elektrolit merupakan kemampuan untuk mengantarkan listrik yang disebabkan oleh terbentuknya kation dan anion dalam larutan sehingga listrik dapat dihantarkan. Ketika HCl yang merupakan senyawa anorganik di tambahkan beberapa tetes AgNO3, maka ikatan ion HCl terputus dengan terbentuknya H yang beruang pasial positif dan Cl yang beruang parsial negatif, inilah yang dikatakan sebagai ion muatan yang dihasilkan dan ionisasi yaitu terbentuknya ion-ion yang bermuatan. Sedangkan pada anorganik, ketika kloroform ditambahkan AgNO3, kloroform tidak dapat berubah menjadi ion-ion. Tujuan penambahan AgNO3 untuk bereaksi dengan senyawa larutan sehingga pada senyawa yang terdiri atas ion, ion-ionnya akan lebih mudah bergerak bebas.

Terbentuknya ion-ion ini berkaitan dengan uji beilstein. Pada uji ini, kedalam NaCl, kloroform dan KI dimasukan kawat yang telah dipanaskan, lalu diamati terbentuknya gelembung-gelembung pada larutan. Hasil yang diperoleh yaitu senyawa organik tidak terdapat gelembung pada larutan sedangkan pada larutan senyawa organik terdapat gelembung. Ketika kawat panas dimasukan kedalam larutan, ion-ion pada larutan senyawa anorganik akan menghantarkan panas dan akan terbentuk gelembung-gelembung gas yang berupa hidrogen sebagai bentuk penguapan. Sedangkan pada larutan senyawa organik tidak dapat membentuk ion-ion sehingga gelembung gas tidak dapat dihasilkan. Pada percobaan ini tidak dilakukan perlakuan uji pada larutan KI sehingga tidak diperoleh hasil untuk KI.

Selanjutnya dilakukan uji perbedaan sifat karena pemanasan. Telah dijelaskan sebelumnya senyawa organik disusun oleh atom karbon, dan terdapat ikatan C-H pada senyawanya. Ketika senyawa organik dipanaskan, maka atom H yang merupakan golongan gas akan mengalami penguapan dan yang tersisa adalah atom karbon. Sesuai namanya, karbon identik dengan warna hitam. Maka bila senyawa organik dipanaskan terus menerus, maka yang diperoleh adalah serbuk hitam atau kehitaman yang merupakan sifat karbon. Sedangkan pada senyawa anorganik, tidak akan mengalami perubahan apapun karena tidak disusun oleh karbon. Pada hasil pun menunjukkan hal yang sejalan dengan teori, dimana glukosa dipanaskan menghasilkan benda dengan warna hitam, ini menunjukan pada glukosa terdapat karbon. Sedangkan pada NaCl tidak terjadi perubahan apapun yang merupakan tanda bahwa tidak terdapat karbon dalam NaCl.

G.      KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini yaitu:

  1. Untuk mengidentifikasi senyaw organik dan anorganik dapat dilakukan uji pembakaran, tes beilstein, tes pemanasan, dan tes ionisasi dengan menggunakan AgNO3 sebagai pereaksi.
  2. Sifat dasar senyawa organik yaitu memiliki titik didih yang tinggi dibandingkan senyawa anorganik, senyawa organik tidak dapat membentuk ion-ion atau tidak terionisasi, sedangkan senyawa anorganik dapat mengalami ionisasi menjadi kation dan anion sehingga dapat menghantarkan arus listrik dan menghasilkan gelembung, senyawa organik bila dipanaskan akan terbentuk arang yang merupakan perwujudan dari atom karbon dalam senyawanya sedangkan pada senyawa anorganik bila dipanaskan tidak akan berubah warna menjadi hitam.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin. Z. 2008. Beberapa Unsur Mineral Esensial Mikro Dalam Sistem Biologi dan Metode Analisisnya. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 27 No.3.

 

Darmawan. P. 2008. Pembuatan dan Karakterisasi Karbon Aktif dari Kulit Ubi Kayu. Jurnal Kimia dan Teknologi. ISSN 0216-163X.

 

Fessenden, Fessenden. 1982. Kimia Organik. Edisi Ketiga Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

Kurniawan. Y., Muhammad. N. 2005. Studi Pemodelan Dinamika Proton Dalam Ikatan Hidrogen H2O Padatan Satu Dimensi. Jurnal Fisika. Vol.8, No.3.

 

Lestari. A.P. 2009. Pengembangan Pertanian Berkelanjutan Melalui Subtitusi Pupuk Anorganik dengan Pupuk Organik. Jurnal Agronomi. Vol.13, No.1.

Siregar. 2012. Senyawa Organik dan Anorganik. http://chemicalregar.blogspot.com/2012/04/senyawa-organik-dan-anorganik.html. Diakses 17 November 2012.

Wiratmaja. I.G., I Gusti. BWK., I Nyoman. SW. 2011, “Pembuatan Etanol Generasi Kedua Dengan Memanfaatkan Limbah Rumput Laut Eucheuma Cottonii Sebagai Bahan Baku”, Jurnal Ilmiah Teknik Mesin, Vol. 5 No.1.

Pertanyaan :

  1. Simpulkan perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik !
  2. Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 1a1; 1a2; 1a3 dan 1b !
  3. Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 2a !
  4. Simpulkan hasil pengamatan percobaan 2b!
  5. Simpulkan hasil ppengamatan percobaan 2c !

Jawab :

  1. Perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik :

–          Senyawa organik memiliki atom karbon pada senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak memiliki atom karbon pada senyawanya

–          Ikatan yang menyusun molekul senyawa organik yaitu ikatan kovalen, sedangkan ikatan yang menyusun molekul senyawa anorganik yaitu ikatan ionik dan kovalen polar

–          Senyawa organik memiliki titik didih yang rendah sehingga cepat mengalami penguapan, sedangkan senyawa anorganik memiliki titik didih yang tinggi

–          Senyawa organik bukan senyawa elektrolit, tidak mampu terionisasi sehingga tidak dapat menghasilkan gelembung gas, sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit, mampu terionisasi sehingga menghasilkan gelembung gas ketika diberikan kawat panas.

–          Apabila dibakar, senyawa organik akan mengalami perubahan warna menjadi hitam yang disebabkan oleh adanya karbon dalam senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak akan mengalami perubahan warna menjadi hitam.

  1. Percobaan 2c :

Senyawa organik yaitu kloroform bukanlah senyawa yang dapat membentuk ion atau mengalami ionisasi sehingga ketika ditambahkan AgNO3 maka tidak terjadi ionisasi, sedangkan senyawa anorganik yang terikat secara ionik ketika ditambahkan AgNO3, ikatan ioniknya akan merenggang dan putus menyebabkan terbentuknya ion-ion bermuatan sehingga senyawa anorganik dapat terionisasi dan tidak pada senyawa organik.

Laporan Kimia Organik SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

PERCOBAAN 2

SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK

OLEH :

NAMA                         :           NURRAMADHANI.A.SIDA

STAMBUK                 :           F1F1 11 114

KELAS                       :           FARMASI A

KELOMPOK              :           4

NAMA ASISTEN      :           MUH. DITO ERLANGGA

LABORATORIUM FARMASI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2012

SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK

A.    TUJUAN

Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu :

  1. Mempelajari sifat-sifat kelarutan senyawa organik.
  2. Membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut.

 

B.       LANDASAN TEORI

Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang (Siregar, 2012).

Kelarutan adalah kadar jenuh solute dalam sejumlah solven pada suhu tertentu yang menunjukkan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solute atau solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekuler yang homogeni. Kelarutan suatu zat (solute) dalam solven tertentu digambarkan sebagai like dissolves like senyawa atau zat yang strukturnya menyerupai akan saling melarutkan, yang penjabarannya didasarkan atas polaritas antara solven dan solute yang dinyatakan dengan tetapan dielektrikum, atau momen dipole, ikatan hydrogen, ikatan van der waals (London) atau ikatan elektrostatik yang lain (Anonim, 2012).

Kelarutan sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu dari momen dipolnya. Namun Hildebrand membukti bahwa pertimbangan tentang dipol momen saja tidak cukup untuk menerangkan kelarutan zat polar dalam air. Kemampuan zat terlarut membentuk ikatan hidrogen lebih merupakan faktor yang jauh lebih berpengaruh dibandingkan dengan polaritas. Air melarutkan fenol, alkohol, aldehida, keton, dll yang mengandung oksigen dan nitrogen yang dapat membentuk ikatan hidrogen dalam air. Pelarut non polar tidak dapat mengurangi gaya tarik-menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah, karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah. Pelarut juga tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut non polar termasuk dalam golongan pelarut aprotik dan tidak dapat membentuk jembatan hidrogen dengan non elektrolit. Oleh karena itu zat terlarut ionik dan polar tidak larut atau hanya dapat larut sedikit dalam pelarut nonpolar. Maka, minyak dan lemak larut dalam benzen, tetrakloroda dan minyak mineral. Alkaloida basa dan asam lemak larut dalam pelarut nonpolar (Martin, 1993).

Etanol merupakan zat cair, tidak berwarna, berbau spesifik, mudah terbakar dan menguap, dapat bercampur dalam air dengan segala perbandingan. Secara garis besar penggunaan etanol adalah sebagai pelarut untuk zat organik maupun anorganik, bahan dasar industri asam cuka, ester, spirtus, asetaldehid, antiseptik dan sebagai bahan baku pembuatan eter danetil ester (Wiratmaja, 2011). Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14 . Awalan heks– merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran –ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air (Munawaroh, 2010).

Umumnya minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng adalah minyak bunga matahari, minyak kelapa sawit, minyak kelapa. Fakta bahwa, ketika minyak seperti ini yang dipanaskan untuk perpanjangan waktu (penyalahgunaan), mereka mengalami oksidasi (degradasi) dan menimbulkan oksida. Banyak dari seperti hidroperoksida, epoksida dan polimer zat telah menunjukkan merugikan kesehatan / biologi efek seperti retardasi pertumbuhan, peningkatan ukuran hati dan ginjal serta kerusakan sel (Sudhir, 2010).

Bahan yang bersifat polar terdiri dari bahan yang bersifat ionik atau kovalen. Untuk yang non polar umumnya adalah bersifat kovalen. Berdasarkan polaritas ini maka pelarut-pelarut yang ada di alam juga dapat digolongkan. Hal ini dapat membantu pemilihan jenis pelarut yang akan digunakan saat akan melarutkan bahan. Pada bagian berikut disajikan tabel polaritas berbagai jenis pelarut yang sering digunakan di laboratorium (Iqmal, 2012).

Ikatan hidrogen dapat membentuk fase baru dan menghasilkan suatu senyawa baru dalam ikatannya dengan atom lain seperti atom C, N, O, maupun ikatannya dengan atom hidrogen sendiri, antara lain dalam pembentukan benzena, air(es), amoniak dan lain-lain. Pada ikatan hidrogen tersebut terdapat karakteristik proton penyusun atomnya, yaitu gerakan-gerakan dinamis proton dalam ikatan tersebut dapat dipelajari dengan mengkaji persamaan gerak proton dalam ikatan sehingga dapat diketahui perilaku proton dalam keadaan tertentu. Ikatan hidrogen dalam molekul H2O merupakan ikatan kovalen, kajian kepadanya diperlukan untuk mengetahui bagaimana keadaan ideal dari molekul tersebut (Kurniawan, 2005).

 

 

 

 

C.      URAIAN BAHAN

a)      Akuades (Dirjen POM, 1979).

  • Nama Resmi             : Aqua destilata.
  • Nama Lain    : air suling
  • Rumus Molekul        : H2O
  • Berat molekul           : 18
  • Rumus Bangun         :

 

 

  • Pemerian                   : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak  berbau, tidak mempunyai rasa.
  • Penyimpanan            : dalam wadah tertutup baik.
  • Kegunaan                  : sebagai pelarut.

b)     NaCl (FI.Ed.III hal. 403).

  • Nama Resmi                         : Natrium Chloridum
  • Nama Lain                : Natrium klorida
  • Berat Molekul           : 32.04 g/mol
  • Rumus Molekul        : NaCl
  • Rumus Bangun         :

 

  • Pemerian                   : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur      putih; rasa asin.
  • Kelarutan           : Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin; sukar larut dalam etano
  • Penyimpanan      : Dalam Wadah Tertutup baik
  • Khasiat               : Hemodialisis
  • Kegunaan           : Sebagai Sampel

c)      Etanol

  • Nama Resmi                         : Etil Alkohol / etanol
  • Nama Lain                : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut
  • Berat molekul           : 46,07 g/mol
  • Rumus Molekul        : C2H5OH
  • Rumus Bangun         :

 

 

  • Pemerian                   : cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari
  • Kegunaan                  : sebagai pelarut.

d)     Kloroform

  • Nama                        : Chloroformum
  • Nama lain                  : kloroform
  • Berat molekul           : 119,38 g/mol
  • Rumus molekul         : CHCl3
  • Rumus bangun          :

 

 

 

  • Pemerian                   : cairan, mudah menguap; tidak berwarna; bau khas; rasa manis dan membakar.
  • Kelarutan                  : larut dalam lebih kurang 200 bagian air; mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak.
  • Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik bersumbat kaccca, terlindung dari cahaya.
  • Khasiat                      : pengawet dan zat tambahan
  • Kegunaan                  : pereaksi

 

e)      Glukosa (FI. Ed. III hal.268)

  • Nama resmi               : Glucosum
  • Nama lain                  : Glukosa
  • BM / RM                  : 198,17 g/mol
  • Rumus molekul         : C6H12O6
  • Rumus bangun          :

 

 

 

  • Pemerian                   : hablur tidak berwarna, serbuk halus atau butiran putih; tidak berbau; rasa manis.
  • Kelarutan                  : mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol (95%) mendidih; sukar larut dalam etanol (95%).
  • Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik
  • Kegunaan                  : sebagai bahan uji

f)       HCl

  • Nama resmi               : Acidum Hydrochloridum
  • Nama lain                  : Asam klorida
  • BM / RM                  : 36,46 g/mol
  • Rumus molekul         : HCl
  • Rumus bangun          :

 

  • Pemerian                   : cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air, asao dan bau hilang.
  • Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup rapat
  • Kegunaan                  : sebagai bahan uji

g)      NaOH (Dirjen POM, 1979).

  • Nama resmi                 :  Natrii hydroxydum
  • Nama lain                    :  Natrium hidroksida
  • Berat molekul              :  40,00 g/mol
  • Rumus molekul           : NaOH
  • Pemerian                     : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, rapuh dan mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap CO2
  • Kelarutan                    :   Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) .
  • Penyimpanan               :   Dalam wadah tertutup baik
  • o     Kandungan                 : Mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali jumlah dihitung sebagai NaOH dan tidak lebih dari 2,5% Na2CO3
  • Khasiat                        :   –
  • Kegunaan                    :   Sebagai zat tambahan

h)      Asam asetat (Dirjen POM, 1979).

  • Nama resmi           : Acidum aceticum
  • Nama lain              : Cuka
  • Berat molekul        : 60,05 g/mol
  • Rumus molekul     : C2H4O2
  • Rumus bangun      :

 

  • Pemerian               : cairan jernih; tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam
  • Kelarutan              : dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol.
  • Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
  • Khasiat                  : zat tambahan.

i)        Etil asetat

Nama resmi           : Acidum aceticum

Nama lain              : Cuka

Berat molekul        : 60,05 g/mol

Rumus molekul     : C2H4O2

Rumus bangun      :

 

Pemerian               : cairan jernih; tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam

Kelarutan              : dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol.

Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat

Khasiat                  : zat tambahan.

 

 

j)         Metanol (Dirjen POM, 1979).

  • Nama Resmi         : Metil Alkohol
  • Nama Lain           : Metanol, Hidroksimetana, Metil alkohol, Metil hidrat, Alkohol kayu, Karbinol.
  • Berat Molekul      : 32.04 g/mol
  • Rumus Molekul    : CH3OH
  • Rumus Bangun    :

 

 

  • Pemerian              : Pada “keadaan atmosfer” ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol).
  • Kegunaan             : sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri.

k)       Butanol (Mewal, 2011).

  • Nama Resmi         : Butanol
  • Nama Lain           : butil alkohol
  • Berat molekul       : 46,07 g/mol
  • Rumus Molekul    : C4H9OH.
  • Rumus Bangun    :

 

  • Pemerian              :
  • Kegunaan             : sebagai pelarut, sebagai perantara dalam sintesis kimia, dan sebagai bahan bakar.

l)        n-Heksan (Dirjen POM, 1979).

  • Nama                           : n-heksana
  • Berat molekul              : 86.18 g/mol
  • Rumus molekul           : C6H14
  • Rumus bangun            :

 

 

 

  • Pemerian                     : cairan tak berwarna, dapat dibakar
  • Kegunaan                    : pelarut organik

m)    Asam sulfat (Dirjen POM, 1979).

  • Nama resmi           : Acidum sulfuricum
  • Nama lain              : asam sulfat
  • Berat molekul        : 98,07 g/mol
  • Rumus molekul     : H2SO4
  • Rumus Bangun     :
  • Pemerian               : cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna; jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas.
  • Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
  • Khasiat                  : zat tambahan

 

n)      Parafin (Dirjen POM, 1979).

  • Nama resmi           : Paraffinum liquidum
  • Nama lain              : Parafin cair
  • Pemerian               : Cairan kental, transparan, tidak berfluorensensi, tidak berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak mempunyai warna.
  • Kelarutan              : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%), larut dalam kloroform dan dalam eter.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.      METODE KERJA

  1. 1.        Alat dan Bahan

a)      Alat.

Alat yang digunakan, yaitu :

–          Tabung reaksi

–          Pipet tetes

b)      Bahan.

Bahan yang digunakan, yaitu :

–          Kloroform

–          Etanol

–          H2SO4 encer

n-Heksana

–          HCl

–          Butanol

–          Metanol

–          Glukosa

–          Minyak Goreng

–          Parafin

–          Etil asetat

–          Asam asetat

–          NaOH

–          Akuades

 

 

  1. 2.      Prosedur Kerja

 Minyak goreng

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Larut dalam n-Heksana dan NaOH

 Metanol

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Etanol

 

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

 

 

 

 

Tidak larut dalam n-Heksana

 Glukosa

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut

 Butanol

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

 

 

 

 

 

Larut

 

 

 

 

 Parafin

 

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

 

 

 

 

 

 Metanol

Larut dalam n-Heksana

 

 

 

 

 

 

 

 

 Etil asetat

 

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

 

 

 

 

 

Larut dalam n-Heksana

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Kloroform

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-heksana

Asam asetat

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Asam sulfat

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Aquades

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

Natrium Hidroksida

–          Dipipet

–          Dimasukan kedalam tabung reaksi

–          Ditambahkan n-heksan

–          Diamati kelarutannya

–          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Asam Klorida

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


E.       HASIL PENGAMATAN

No

Senyawa

Kelarutan Dalam

n-Heksana

H2O

NaOH

HCl

H2SO4

1. Minyak Goreng
2. Metanol
3. Etanol
4. Butanol
5. Glukosa
6. Parafin
7. Etilasetat
8. Kloroform
9. Asam asetat
10. Air
11. Asam sulfat
12. Natrium hidroksida
13. Asam klorida

 

 


F.       PEMBAHASAN

Senyawa organik merupakan senyawa yang memiliki atom karbon sebagai salah satu unsur yang menyusun senyawanya kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Penggunaan senyawa organik itu sendiri telah banyak digunakan dalam laboratorium, dan kehidupan sehari-hari pun kerap dipakai untuk keperluan manusia, sebagai contoh penggunaan cuka atau asam asetat dalam bahan tambahan makanan, karbohidrat yang berupa sukrosa sebagai gula pemanis makanan dan minuman. Namun kebanyakan senyawa organik ditemui dalam bentuk padatan, dan juga beberapa diantaranya berupa cairan. Senyawa organik banyak digunakan dalam bentuk larutan, yaitu campuran pelarut dan terlarut. Namun, tidak semua senyawa organik dapat larut dalam 1 jenis pelarut yang sama, ada beberapa sifat kelarutan yang berbeda pada setiap senyawa organik.

Pada percobaan ini, dilakukan pengujian kelarutan beberapa contoh senyawa organik dalam beberapa jenis pelarut. Pelarut yang digunakan yaitu air, HCl, H2SO4 dan NaOH sebagai pelarut anorganik dan n-heksan sebagai pelarut organik. Berdasarkan kepolarannya, air, HCl, H2SO4 dan NaOH merupakan pelarut polar dan n-heksan sebagai pelarut non polar. Berpatokan pada prinsip kelarutan Like Dissolves Like, maka senyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut yang polar, begitupun untuk senyawa yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut non polar.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada praktikum ini, hanya glukosa yang menunjukan kelarutan pada segala jenis pelarut. Kelarutan suatu solut dalam sejumlah solven selain dipengaruhi oleh kepolaran, juga dipengaruhi oleh kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen dengan molekul pelarut. Pada glukosa misalnya, glukosa merupakan senyawa non polar, dimana glukosa dibentuk oleh ikatan kovalen dan muatan dieletriknya adalah O karena kecilnya perbedaan elektronegativitasnya. Bila berpatokan pada prinsip Like dissolves like maka glukosa seharusnya hanya dapat larut dalam pelarut non polar yaitu n-heksan. Namun karena kemampuannya untuk membentuk ikatan hidrogen melalui atom O pada gugus glukosa yang melakukan ikatan dengan atom H pada air sehingga glukosa dapat larut dalam pelarut air. Namun bukan saja dengan air senyawa glukosa dapat membentuk ikatan hidrogen, pada pelarut polar lainnya juga.

Untuk bahan kloroform, asam asetat, air, asam sulfat, natrium hidroksida, dan asam klorida menunjukkan kepolaritasannya dalam kelarutan pada pelarut, dimana bahan-bahan uji ini hanya larut dalam pelarut polarnya dan tidak pada pelarut n-heksan. Seperti yang dijelaskan pada literatur, kecenderungan suatu zat untuk larut sempurna dalam pelarutnya diperngaruhi oleh kesamaan polaritas, kesamaan zat tersebut untuk berubah menjadi kutup-kutup yang berupa kation dan anion dan membentuk suatu zat baru dengan melakukan ikatan antar kutup. Pada kloroform, asam asetat, asam klorida, natrium hidroksida dan lain sebagainya, ikatan antar atom nya dibentuk dari ikatan ionik atau kovalen polar. Dimana ikatan ionik apabila diputuskan, maka atom yang memiliki tingkat elektronegatif lebih tinggi akan bermuatan negatif dan atom lainnya akan bermuatan positif. Ketika 2 zat ini dicampurkan maka bagian parsial positif akan menarik bagian parsial negatif untuk membentuk ikatan baru sehingga dihasilkan zat baru.

Turunan alkohol yaitu metanol, etanol dan butanol berdasarkan hasil percobaan ini diperoleh data yang menunjukkan hanya butanol yang tidak larut pada beberapa pelarut yang disediakan. Dalam prinsip like dissolves like dijelaskan bahwa kelarutan dapat dipengaruhi oleh kesamaan struktur yang membentuk molekulnya. Molekul air, dibentuk oleh atom H dan O dan alkohol juga dibentuk oleh atom H dan O oleh sebuah ikatan sigma. Adanya gugus OH ini membuat alkohol memiki polaritas yang hampir sama dengan polaritas air. Namun kepolaritasan yang dimiliki oleh senyawa-senyawa turunan alkohol tidak akan sebanding dengan polaritas air, hal ini dipengaruhi oleh kehadiran gugus alkil pada molekulnya. seperti yang diketahui gugus alkil merupakan gugus non polar, semakin panjang alkil yang dimiliki oleh suatu senyawa maka semakin besar sifat non polarnya. Pada metanol dan etanol, dimana gugus alkil yang kedua senyawa ini miliki tidak begitu panjang dan tidak merubah tingkat kelektronegatif sehinnga etanol dan metanol dapat larut dalam pelarut polar. Sedangkan pada butanol, gugus alkilnya lebih mendominasi molekul sehingga tidak dapat larut dalam senyawa polar. Namun, pada hasil yang diperoleh butanol juga tidak larut dalam pelarut n-heksan sebagai pelarut nonpolar. Hal ini dapat diperngaruhi oleh kesalahan dalam mencampur bahan.

Lalu untuk kelarutan parafin, minyak goreng dan etil asetat sebagai senyawa nonpolar sudah dapat dipastikan hanya akan larut dalam pelarut non polar, dan hal ini dibenarkan pada hasil pencampuran ketiga bahan ini dengan pelarut n-heksan. Dimana, ketiga bahan ini hanya larut total dalam n-heksana dan membentuk 2 lapis cairan apabila dilarutkan dalam pelarut polar. Terbentuknya 2 lapis cairan oleh senyawa polar dan senyawa nonpolar ini dipengaruhi oleh ikatan yang dibentuk. Pada literatur dijelaskan non polar hnya dapat berikatan antar alkil ], sehingg ketika dicampurkan, senyawa polar yang umumnya tidak memiliki rantai alkil tidak dapat diikat oleh senyawa nonpolar. Begitupun senyawa polar yang dapat berikatan apabila ada ion bermuatan yang dihasilkan atau adanya atom yng lebih elekronegatif menarik atom H dan membentuk jembatan hidrogen.

 

Dalam bidang farmasi, pengetahuan mengenai kelarutan sangat diperlukan. Pengetahuan mengenai sifat-sifat kelarutan senyawa organik digunakan oleh  apoteker dalam membuat dan meracik obat sehingga obat menyenangkan untuk dikonsumsi, selain itu pula digunakan apoteker untuk memperkirakan efek terapi dari obat tersebut, apakah onset yang dihasilkan cepat atau lambat berdasarkan daya larutny dalam lemak tubuh.

 

G.      KESIMPULAN

Berdasrkan hasil percoban maka dapat ditarik kesimpulan :

  1. Senyawa organik dapat larut dalam pelarut polar dan non polar. Kelarutan senyawa organik tergantung pada kemampuan senyawa organik untuk membentuk ikatan hidrogen dengan atom-atom elektronegatif sehingga dapat larut dalam senyawa polar.
  2. Tingkat kelarutan senyawa organik yaitu glukosa > (metanol, etanol, klorofm, asam asetat) > (n-heksan, parafin, minyak goreng) > butanol.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Penuntun Praktikum Farmasi Fisik I. Universitas Haluoleo. Kendari.

Dirjen POM.1972. Farmakope Indonesia.. Edisi Ke-I. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

 

Iqmal. 2012. Kaidah Kelarutan Bahan. http://iqmal.staff.ugm.ac.id/?p=2425. Diakses 25 November 2012.

 

Kurniawan. Y., Muhammad. N. 2005. Studi Pemodelan Dinamika Proton Dalam Ikatan Hidrogen H2O Padatan Satu Dimensi. Jurnal Fisika. Vol.8, No.3.

 

Lestari. A.P. 2009. Pengembangan Pertanian Berkelanjutan Melalui Subtitusi Pupuk Anorganik dengan Pupuk Organik. Jurnal Agronomi. Vol.13, No.1.

 

Martin, Alfred.1993. Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik Dalam Ilmu Farmasetik. Edisi Ketiga 1. UI Press. Jakarta.

Munawaroh. S., Prima.AH. 2010. Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana. Jurnal Kompetensi Teknik. Vol. 2. No.1. Hal : 73-78.

Siregar. 2012. Senyawa Organik dan Anorganik. http://chemicalregar.blogspot.com/2012/04/senyawa-organik-dan-anorganik.html. Diakses 17 November 2012.

 

Wiratmaja. I.G., I Gusti. BWK., I Nyoman. SW. 2011, “Pembuatan Etanol Generasi Kedua Dengan Memanfaatkan Limbah Rumput Laut Eucheuma Cottonii Sebagai Bahan Baku”, Jurnal Ilmiah Teknik Mesin, Vol. 5 No.1.

 

Sudhir, CV., NY. Sharma., p. Mohanan. 2007. Potentil of Waste Cooking Oils as Biodiesel Feed Stock. Journal for Engineering Research. 12 (3). Hal:69-75.

 

 

 

 

 

 


Pertanyaan :

  1. Simpulkan perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik !
  2. Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 1a1; 1a2; 1a3 dan 1b !
  3. Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 2a !
  4. Simpulkan hasil pengamatan percobaan 2b!
  5. Simpulkan hasil ppengamatan percobaan 2c !

Jawab :

  1. Perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik :

–          Senyawa organik memiliki atom karbon pada senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak memiliki atom karbon pada senyawanya

–          Ikatan yang menyusun molekul senyawa organik yaitu ikatan kovalen, sedangkan ikatan yang menyusun molekul senyawa anorganik yaitu ikatan ionik dan kovalen polar

–          Senyawa organik memiliki titik didih yang rendah sehingga cepat mengalami penguapan, sedangkan senyawa anorganik memiliki titik didih yang tinggi

–          Senyawa organik bukan senyawa elektrolit, tidak mampu terionisasi sehingga tidak dapat menghasilkan gelembung gas, sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit, mampu terionisasi sehingga menghasilkan gelembung gas ketika diberikan kawat panas.

–          Apabila dibakar, senyawa organik akan mengalami perubahan warna menjadi hitam yang disebabkan oleh adanya karbon dalam senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak akan mengalami perubahan warna menjadi hitam.

  1. Percobaan 2c :

Senyawa organik yaitu kloroform bukanlah senyawa yang dapat membentuk ion atau mengalami ionisasi sehingga ketika ditambahkan AgNO3 maka tidak terjadi ionisasi, sedangkan senyawa anorganik yang terikat secara ionik ketika ditambahkan AgNO3, ikatan ioniknya akan merenggang dan putus menyebabkan terbentuknya ion-ion bermuatan sehingga senyawa anorganik dapat terionisasi dan tidak pada senyawa organik.

 

 

 

 

 

 

 CampuranIdeal

Campuran ideal adalah sebuah campuran yang menaati hukum Raoult.        Suatu larutan dikatakan ideal, jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Homogen pada seluruh kisaran komposisi dari system, mulai dari fraksi mol nol sampai dengan satu (0<x<1).
  2. Pada pembentukan larutan dari komponennya, tidak ada perubahan entalpi (∆H campuran = 0), artinya panas larutan sebelum dan sesudah pencampuran adalah sama.
  3. Perubahan volume campuran adalah sama dengan nol (V campuran = 0), artinya jumlah volume larutan sebelum dan sesudah pencampuran adalah sama.
  4. Memenuhi hukum Raoult.

  Suatu larutan dianggap bersifat ideal, karena didasarkan pada kekuatan relative dari gaya tarik-menarik antara molekul solute dengan solventnya. Larutan atau campuran ideal adalah larutan yang gaya tarik-menarik antara molekul-molekul sama dengan gaya tarik-menarik molekul-molekul dari solute dan solventnya masing-masing.

Campuran ideal dan gaya intermolekuler

Dalam sebuah larutan A ketika diberikan kalor, ada beberapa molekul yang berenergi besar dapat menggunakan energinya untuk mengalahkan daya tarik intermolekuler permukaan cairan dan melepaskan diri untuk kemudian menjadi uap.
Semakin kecil daya intermolekuler, semakin banyak molekul yang dapat melepaskan diri pada suhu tertentu.

Dalam larutan B ketika diberikan kalor, hal yang sama juga terjadi, sebagian dari molekul-molekul yang ada akan mempunyai energi yang cukup untuk melepaskan diri dari permukaan larutan.

Dikatakan campuran ideal yaitu apabila kedua jenis zat cair ini dicampurkan, maka kecenderungan molekul yang beeenergi tinggi untuk melepaskan diri dan menjadi uap dari kedua jenis zat cair ini tidak berubah. Dimana jumlah molekul zat yang melepaskan diri menjadi uap pada saat masih dalam sesama jenis sama dengan jumlah molekul yang menjadi uap pada saat kedua zat dicampurkan. KECENDERUNGAN melepaskan diri ini berhubungan dengan kuatnya ikatan, dengan kata lain campuran ideal yaitu campuran yang memiliki ikatan antar molekul suatu larutan sama dengan ikatan antar molekul sebelum menjadi campuran

Hubungan hukum raoult dengan campuran ideal.

Tekanan uap parsial berbanding lurus dengan fraksi mol, semakin besar fraksi mol semakin besar pula tekanan uap parsialnya. Fraksi mol berhubungan dengan banyaknya zat terlarut yang terdapat dalam larutan tersebut. Maka dapat disimpulkan semakin banyak molekul yang terdapat dalam molekul maka semakin besar tekanan uapnya.

Tekanan uap itu sendiri berbanding lurus dengan kuatnya ikatan intermolekul yang telah dijelaskan sebelumnya pada campuran ideal. Semakin besar ikatan antar molekul maka semakin sedikit molekul yang dapat berubah menjadi uap sehingga tekanan uapnya kecil, sedangkan apabila ikatan intra molekulnya kecil makin banyak molekul yang melepaskan diri menjadi uap dan tekanan uapnya besar.

Titik didih adalah suhu dimana tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer. Untuk tekanan uap rendah diperlukan suhu lebih agar tekanannya sama dengan tekanan atmosfer, sedangkan tekanan uap tinggi tidak perlu memerlukan suhu tinggi untuk membuat tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfer.

Titik didih ini diperlukan dalam proses destilasi, dimana destilasi merupakan metode pemisahan dan pemurnian zat cari berdasarkan perbedaan titik didih, yang memiliki titik didih rendah akan menguap terlebih dahulu dan berubah menjasi destilat setelah diembunkan dan yang memiliki titik didih tinggi akan menguap paling terakhir.

Jadi hukum raoult dapat digunakan untuk menjelaskan proses destilasi.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi destilasi :

  1. jenis larutan. Setiap larutan mempunyai tekanan uap dan titik didih yang berbeda sehingga proses destilasi dan jenis destilasi yang dilakukan pada tiap larutan dapat berbeda-beda
  2.  volume larutan, 
  3.  Suhu
  4.  dan tekanan

Amilase >>> faktor-faktor yang mempengaruhi kerjanya

PENGUJIAN AKTIVITAS AMILASE

A.      TUJUAN

Tujuan dilakukannya percobaan ini, yaitu  agar mahasiswa dapat melakukan pengujian aktivitas amilase.

B.       TINJAUAN PUSTAKA

Pati yang juga merupakan simpanan energi di dalam sel-sel tumbuhan ini berbentuk butiran-butiran kecil mikroskopik dengan berdiameter berkisar antara 5-50 nm. Pati umumnya akan terbentuk dari dua polimer molekul glukosa yaitu amilosa (amylose) dan amilopektin (amylopectin). Amilosa merupakan polimer glukosa rantai panjang yang tidak bercabang sedangkan amilopektin merupakan polimer glukosa dengan susunan yang bercabangcabang (Irawan, 2007). Pati merupakan polimer yang tersusun dari unit satuan α-D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-1,4 glikosidik dan ikatan α-1,6 glikosidik pada percabangan rantainya. Secara alami, pati merupakan campuran dari amilosa dan amilopektin yang kedua-duanya merupakan suatu polimer dari α-D-glukosa (Sukandar, 2011).

Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel (Anonim, 2011). Enzim meningkatkan laju reaksi sehingga terbentuk kesetimbangan kimia antara produk dan pereaksi. Pada keadaaan kesetimbangan, istilah pereaksi dan produk tidaklah pasti dan bergantung pada pandangan kita. Dalam keadaan fisiologi yang normal, suatu enzim tidak mempengaruhi jumlah produk dan pereaksi yang sebenarnya dicapai tanpa kehadiran enzim. Jadi, jika keadaan kesetimbangan tidak menguntungkan bagi pembentukan senyawa, enzim tidak dapat mengubahnya (Salisbury, 1995).

Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, disamping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. Seperti juga katalis lainnya, maka enzim dapat menurunkan energi aktiasi suatu reaksi enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada membutuhkan energi atau mengeluarkan energi (Poedjadi, 2006).

Cairan ludah adalah secretion1 eksokrin, 2 consistingof sekitar 99% air, yang mengandung berbagai elektrolit (natrium, kalium, kalsium, klorida, magnesium, bikarbonat, fosfat) dan protein, yang diwakili oleh enzim, immunoglobulin dan faktor antimikroba lainnya, glikoprotein mukosa, jejak albumin dan beberapa polipeptida dan oligopeptida yang penting bagi kesehatan mulut. Ada juga glukosa dan produk nitrogen, seperti urea dan ammonia.3, 4 Komponen berinteraksi dan bertanggung jawab atas berbagai fungsi dikaitkan dengan air liur. Air liur bertanggung jawab untuk pencernaan awal pati, mendukung pembentukan, makanan bolus.13 17 Tindakan ini terjadi terutama oleh adanya enzim pencernaan α-amilase (ptyalin) dalam komposisi air liur. Fungsi biologis adalah untuk membagi pati menjadi maltosa, maltotriosa, dan dekstrin. Enzim ini dianggap baik indikator kelenjar ludah berfungsi, 29 kontribusi 40% sampai 50% dari jumlah ludah protein yang dihasilkan oleh kelenjar. Semakin besar bagian dari enzim (80%) disintesis dalam parotids dan sisanya di submandibula kelenjar. Aksinya tidak aktif di bagian asam dari saluran pencernaan dan akibatnya terbatas pada mulut (Almeida, 2008).

Pengukuran aktivitas amilase dan glukanase dilakukan berdasar kepada kemampuan enzim tersebut dalam mengurai substrat (polisakarida) menjadi monosakarida dalam bentuk gula pereduksi, pada satuan waktu tertentu. Akurasi pengukuran dapat dicapai bila proses deteksi gula pereduksi berlangsung optimum. Reagen DNS yang digunakan dalam mengukur gula pereduksi terdiri dari asam dinitrosalisilat, garam Rochelle dan natrium hidroksida (Rahmansyah, 2003).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi enzim diantaranya adalah (Dwidjoseputro, 1992) :

  1.  suhu

Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktig enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang.

b.      pH

Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum, yang lazimnya berkisar antara pH 4,5-8.0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversibel karena menjadi denaturasi protein.

c.       konsentrasi enzim

Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksibertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.

d.      konsentrasi substrat

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepat reaksi. Akan tetapi, pada batas tertentu tidak terjadi kecepatan reaksi, walaupn konsenrasi substrat diperbesar.

e.       zat-zat penghambat

Hambatan atau inhibisi suatu reaksi akan berpengaruh terhadap penggabungan substrat pada bagian aktif yang mengalami hambatan.
Suatu enzim hanya dapat bekerja spesifik pada suatu substrat untuk suatu perubahan tertentu. Misalnya, sukrase akan menguraikan rafinosa menjadi melibiosa dan fruktosa, sedangkan oleh emulsin, rafinosa tersebut akan terurai menjadi sukrosa dan galaktosa (Salisbury dan Ross, 1995).

 

C.      ALAT DAN BAHAN

a)      Alat

Alat yang digunakan yaitu :

  1. Tabung reaksi
  2. Pipet tetes
  3. Timbangan analitik
  4. Gelas kimia 50 ml
  5. Erlenmeyer
  6. Gelas ukur 50 ml
  7. Batang pengaduk
  8. Cawan petri
  9. Penangas air
  10. Tissue
  11. Spektrofotometer
  12. Kuvet
  13. Corong
  14. Gegep
  15. Kertas label

 

b)      Bahan

Bahan yang digunakan yaitu :

  1. Saliva
  2. NaOH
  3. Reagen DNS
  4. H2SO4 2M
  5. Akuades
  6. Pati 4%

 

 

D.      PROSEDUR KERJA

a)      Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim Amilase.

 

Pati

–          Ditimbang 0,04 gram

–          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml

–          Dipipet masing-masing 0,5 ml

–          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III

–          Ditambahkan akuades masing-masing 0,5 ml

–          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml

–          Diinkubasi masing-masing pada suhu 4; 37; 80 oC

–          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml

–          Dikocok

–          Dipanaskan

–          Didinginkan dalam air dingin

–          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung

–          Dikocok

–          Diukur absobansinya

Hasil ..?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b)      Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim

 

 

–          Ditimbang 0,04 gram

–          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml

–          Dipipet masing-masing 1; 0,5; 0 ml

–          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III

–          Ditambahkan akuades masing-masing 0;  0,5; 1 ml

–          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml

–          Diinkubasi masing-masing pada suhu 60 oC selama 15 menit

–          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml

–          Dikocok

–          Dipanaskan selama 15 menit

–          Didinginkan dalam air dingin

–          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung

–          Dikocok

–          Diukur absobansinya

Hasil ..?

Pati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c)      Pengaruh pH terhadap aktivitas amilase

 

 

 

–          Ditimbang 0,04 gram

–          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml

–          Dipipet masing-masing 1; 0,5; 0 ml

–          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III

–          Ditambahkan akuades masing-masing 0;  0,5; 1 ml

–          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml

–          Diinkubasi masing-masing pada suhu 60 oC selama 15 menit

–          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml

–          Dikocok

–          Dipanaskan selama 15 menit

–          Didinginkan dalam air dingin

–          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung

–          Dikocok

–          Diukur absobansinya

Hasil ..?

Pati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d)     Pengaruh Waktu Inkubasi Terhadap Aktivitas Amilase

 

 

 

–          Ditimbang 0,04 gram

–          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml

–          Dipipet masing-masing 1; 0,5; 0 ml

–          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III

–          Ditambahkan akuades 0; 0,5; 1 ml

–          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml

–          Diinkubasi masing-masing pada suhu 37 oC pada waktu 0, 30 dan 60 menit

–          Dipipet 1 ml

–          Dimasukan ketabung

–          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml

–          Dikocok

–          Dipanaskan selam 30 menit

–          Didinginkan dalam air dingin

–          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung

–          Dikocok

–          Diukur absobansinya

Hasil ..?

Pati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

e)      Larutan blanko

 

–          Dipipet

–          Dimasukan ke tabung reaksi

–          Ditambahkan 1 ml pereaksi DNS

–          Dipanaskan

–          Didinginkan

–          Ditambahkan 8 ml akuades

–          Dimasukan ke kuvet

–          Diukur absorbansinya

1 ml akuades

Hasil..?

 

 

E.     HASIL PENGAMATAN

1)      Tabel Hasil Pengamatan.

a)      Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim

 

Tabung Pati 4% Air (ml) Saliva (ml) Suhu inkubasi (oC) Hasil λ
1 0,5 0,5 1 4 Orange 0,17
2 0,5 0,5 1 37 Orange 0,02
3 0,5 0,5 1 80 Orange 0.016

b)     Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim

 

Tabung Pati 4% (ml) Air (ml) Saliva (ml) Absorbansi Konsentrasi
1 1 0 1 0,250 0,63 mol/l
2 0,5 0,5 1 0,126 3,19 mol/l
3 0 1 1 0,192 4,87mol/l

 

 

 

c)      Pengaruh Waktu Inkubasi Terhadap Aktivitas Enzim

 

Tabung Waktu Inkubasi (menit) Absorbansi
1 0 0,06
2 30 0,202
3 60 0,61

 

 

 

d)     Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim

No. Sampel Absorbansi
1. Tabung I (Air) 0,061 A
2. Tabung II (+NaOH) 0,027 A
3. Tabung III (+H2SO4) -0,072 A

 

 

 

e)      Tabel standar glukosa

 

Glukosa mg/ml 0 2 4 6 8 10
Absorbansi 0 0,078 0,134 0,285 0,294 0,390

 

2)      Kurva Standar Glukosa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3)      Perhitungan konsentrasi substrat

 

Dari kurva diperoleh persamaan : y = 0,0393x + 0,0005, sehingga :

 

  1. Untuk absorbansi 0,250 A, konsentrasi amilasennya adalah :

0,250=0,0393x+0,0005

x= 0,250-0,00050,0393

x=6,34 mg/ml

 konsentrasi substrat pada absorbansi 0,250 A adalah 6,34 mg/ml

 

  1. Untuk absorbansi 0,126 A, konsentrasi amilasennya adalah :

0,126=0,0393x+0,0005

x= 0,126-0,00050,393

x=3,19 mol/l

 konsentrasi substrat pada absorbansi 0,126 A adalah 3,19 mol/l

 

  1. Untuk absorbansi 0,192 A, konsentrasi amilasennya adalah :

0,126=0,0393x+0,0005

x= 0,192-0,00050,393

x=4,87 mol/l

 konsentrasi substrat pada absorbansi 0,126 A adalah 4,87 mol/l

 

F.       PEMBAHASAN

Pati merupakan jenis polisakarida yang tersusun atas amilosa dan amilopektin. Perbedaan amilosa dna amilopektin terletak pada ikatan OH glikosidik penyusunnya. Dalam tubuh manusia, pemecahan karbohidrat pertama kali terjadi pada mulut, dimana pada mulut terdapat air liur yang mengandung enzim amilase. Enzim amilase khususnya enzim  amilase merupakan enzim yang dapat memecah pati menjadi glukosa dengan memutuskan ikatan glikosidik penyusun pati. Glukosa hasil hidrolisis ini digunakan oleh tubuh sebagai sumber energi utama. Enzim bersifat sebagai biokatalisator reaksi kimia, dimana enzim dapat mempercepat reaksi kimia dengan energi yang tidak sebanyak kebutuhan energi pada reaksi tanpa enzim. Kecepatan reaksi enzim ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dan beberapa diantaranya yaitu pH, konsentrasi dan suhu.

Pada percobaan ini dilakukan pengujian aktivitas enzim amilase pada saliva  terhadap pH, suhu, konsentrasi substrat, dan waktu inkubasi yang dibuat bervariasi. Percobaan ini diawali dengan pengenceran pati dengan menggunakan akuades, setelah itu dicampurkan dengan sejumlah saliva lalu diinkubasi. Reaksi enzimatis terjadi pada saat larutan diinkubasi pada suhu tertentu. Hasil inkubasi ditambahkan sejumlah indikator DNS dan dipanaskan. Fungsi penambahan DNS adalah untuk memberikan reaksi kompleks yang membantu dalam pengukuran absorbansi larutan pada spektrofotometer dan berfungsi menghentikan kerja enzim, sehingga enzim tidak memecah pati. Tujuan pemanasan adalah untuk mengoptimalkan kerja DNS dan mempercepat reaksi dari DNS untuk menghentikan kerja enzim.  Hasil pemanasan kemudian didinginkan, dimana tujuan pendinginan untuk menghilangkan DNS yang telah digunakan untuk menghentikan reaksi asam sulfat.  Lalu larutan diencerkan dengan sejumlah akuades yang bertujuan untuk mengurangi intensitas warna dari indikator DNS agar diperoleh hasil yang akurat dan diukur absorbansi larutan.

Prinsip kerja dari pengujian aktivitas enzim ini yaitu menggunakan faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim untuk menguji aktivitas kerja enzim amilase saliva terhadap pati sagu. Pengukuran ini berdasarkan pada perubahan laju reaksi yang ditunjukan enzim amilase terhadap pH, konsentrasi, suhu dan waktu inkubasi yang dibat bervariasi. Laju reaksi sebanding dengan konsentrasi sehingga aktivitas enzim amilase dapat ditinjau dari konsentrasi atau kadar dari enzim setelah diberikan perlakuan.

Uji pertama yaitu uji pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim amilase. Seperti yang diketahui, konsentrasi substrat dapat mempengaruhi kerja enzim, dimana hubungan konsetrasi terhadap kerja enzim berbanding lurus. Dengan kata lain, tingginya konsentrasi substrat akan meninggikan aktivitas enzim. Pada literatur dijelaskan bila jumlah enzim dalam keadaan tetap, kecepatan reaksi akan meningkat dengan adanya peningkatan konsentrasi substrat. Namun, pada tabel data hasil percobaan, konsentrasi yang diperoleh dari hasil plot glukosa standar tidak sebanding dengan banyak ml pati yang digunakan pada reaksi enzimatis ini. Pada pati 1 ml memiliki kadar amilase yang lebih rendah dibandingkan pada pati 0%. Dimana seharusnya kadar amilase meningkat dengan semakin banyaknya jumlah gram substrat yang digunakan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kualitas pati yang tidak 100% pati dan kesalahan data ini dapat pula disebabkan oleh kelalaian praktikan pada saat pelabelan larutan yang akan diabsorbansi.

Selanjutnya dilakukan pengujiaan pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim. Seperti yang diketahui, enzim tersusun atas asama amino sehingga sifat kimia dan fisiknya akan diturunkan dari asam amino. Pada suhu rendah enzim tidak aktif sehingga tidak dapat bereaksi dengan substrat sedangkan pada suhu tinggi enzim akan mengalami kerusakan pada sisi aktifnya atau terdenaturasi. Pada literatur disebutkan suhu optimum enzim yaitu 30-40oC dan akan mengalami denaturasi diatas suhu 60oC. Berdasarkan hal tersebut, maka seharusnya hasil yang diperoleh pada percobaan ini adalah absorbansi dan konsentrasi amilase pada suhu 37oC akan lebih besar bila dibandingkan dengan absorbansi dan konsentrasi amilase pada suhu 4 dan 80 oC. Namun, pada tabel hubungan suhu terhadap kadar, pada suhu 4oC lah kerja enzim meningkat yang ditandai dengan tingginya kadar amilase yang diperoleh dan kerja enzim menurun seiring bertambahnya suhu hingga mencapai suhu 80oC. Pada suhu 80oC, enzim akan mengalami kerusakan struktur sekunder, tersier dan kuarter pada area sisi aktifnya sehingga tidak dapat berikatan dengan substrat dan frekuensi tumbukan antar partikel berkurang oleh kerusakan enzim ini sehingga menurunkan laju reaksi enzim.

Pada data hasil pengujian pengaruh pH terhadap aktivitas enzim terlihat yaitu pada sampel yang ditambahkan sejumlah air memiliki absorbansi yang lebih tinggi dibandingkan absorbansi yang dihasilkan dari penambahan NaOH dan H2SO4. Hasil ini telah sesuai dengan teori. Enzim akan optimum kerjanya apabila berada pada suhu netral. Air merupakan senyawa dengan pH netral yaitu kurang lebih pH=7, sedangkan NaOH dan H2SO4 merupakan senyawa basa dan asam. Menurut arrhenius, dikatakan asam apabila dilarutkan dalam air akan mneghasilkan H+ sedangkan dikatakan basa apabila dilarutkan dalam air menghasilkan OH-. Pada suasana asam atau basa, aktivitas enzim akan menurun yang disebabkan oleh rusaknya sisi aktif enzim pengaruh ion H+ atau OH dari senyawa asam dan basa. Ion-ion ini yang mempengaruhi gugus alkil dari asam amino penyusun enzim. Seperti yang diketahui, asam amino tersusun atas gugus amino, gugus alkil, gugus karboksil dan atom H. Berdasarkan gugus alkilnya (R) asam amino diklasifikasikan menjadi beberapa jenis dan salah satunya yaitu asam dan basa. Maka ketika asam atau basa ditambahkan pada larutan yang mengandung asam amino maka gugus alkil (R) asam amino yang bersifat asam-basa akan meberikatan dengan H – OH dari asam basa yang ditambahkan. Tentu saja gugus alkil (R) asam amino yang bersifat asam akan berikatan dengan OH yang diperoleh dari basa yang ditambahkan, begitu pula dengan ketika bagian alkil asam amino yang bersifat basa bertemu dengan H+ dari asam yang ditambahkan. ikatan yang dibentuk inilah yang merubah sisi aktif dari enzim sehingga frekuensi tumbukan partikel berkurang yang menyebabkan laju reaksi enzim lemah atau rendah.

Uji terakhir yaitu pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas amilase. Enzim mulai bekerja pada saat diinkubasi. Semakin lama waktu inkubasi semakin efektif kerja dari enzim, namun tidak selamanya semakin lama waktu inkubasi dapat meningkatkan kerja enzim. Enzim akan berhenti bekerja apabila telah mencapai masa jenuhnya. Masa jenuh ini terjadi apabila enzim telah berikatan dengan substrat. pada tabel hasil percobaan waktu terhadap kadar menunjukan dari waktu 0 menit sampai 60 menit terjadi peningkatan kerja enzim. Pada waktu 0 menit, tumbukan partikel baru dimulai sehingga frekuensi tumbukan masih berkurang namun seiiring bertambahnya waktu tumbukan akan semakin kuat karena adanya gerakan zigzag atau dalam istilah koloid gerak brown yang terjadi pada partikel. Gsemakin besar frekuensi tumbukan yang terjadi memperbesar laju reaksi enzim.

 

 

G.      KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa aktivitas enzim dipengaruhi oleh pH, suhu, waktu inkubasi dan konsentrasi substrat. Untuk menguji aktivitas enzim dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi DNS.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Almeida. P.D.V.D., Gregio. AMT., Macahado. M.A.N., Soares de lima. A.A., Luciana.R.A. 2008. Saliva Compesition and Function : A comprehensive Review. Journal of Comtemporary Dental Practice. Vol.9. No.3.

 

Anonim, 2011, Enzim, http://id.shvoong.com/exact-sciences/biochemistry/2200855-jenis-jenis-enzim/#ixzz1gXpopTUI, diakses pada tanggal 29 November 2012.

 

 

Murray, R.K., Daryl K.G., Victor W.R., 2009, Biokimia Harper Edisi 27, EGC, Jakarta.

Poedjadi, A., F.M Titin.S., 2006. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta.

 

Rahmansyah. M., I Made. S. 2003. Optimasi Analisis Amilase dan Glukanase Yang Diekstrak Dari Miselium Pleutotus ostrerotus Dengan Asam 3,5 Dinitrosalisilat. Jurnal Penelitian. Vol.9. No.7.

 

Salisbury, F.B., dan C.W. Ross, 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.

 

Sukandar.U., Achmad. AS., Lindawati., Yadi.T. 2011. Sakarifikasi Pati Ubi Kayu Menggunakan Amilase Aspergilus Niger ITB CCL74. Jurnal Teknik Kimia Indonesia. Vol. 10 No. 1.