BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1  LATAR BELAKANG

Rabun ayam (nyctalopia) atau lebih dikenal dengan rabun senja adalah sebuah penyakit mata yang disebabkan oleh kerusakan sel retina yang semestinya bekerja saat melihat benda pada lingkungan minim cahaya, yang menyebabkan penderitanya kesulitan melihat jika kekurangan sumber cahaya. Rabun ayam ini bisa menjadi suatu hal yang paling buruk dalam kehidupan manusia, selain kekurangan daya penglihatan pada suasana gelap, hal ini juga dapat mengurangi kualitas hidup penderitanya. Karena pada hakikatnya manusia harus tetap melakukan aktivitas walaupun pada malam hari. Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan sel tersebut, tetapi yang paling sering akibat dari kekurangan vitamin A.

Kekurangan vitamin A disebabkan oleh rendahnya asupan buah dan sayuran yang mengandung beta-karoten, seperti wortel, mangga, bayam, ubi jalar, yang diubah tubuh menjadi vitamin A. Selain itu, vitamin A juga dapat ditemukan pada hewan seperti pada daging ayam, ginjal domba, daging bebek, hati ayam, hati sapi, ikan, dan telur. Kekurangan vitamin A ini, dapat di cegah dengan mengonsumsi vitamin A, namun mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dengan waktu yang tidak kostan saja tidak cukup, karena pada tumbuhan dan juga sumber vitamin A yang lainnya tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Sehingga dianjurkan untuk mengonsumsi sumber-sumber vitamin A secara sering, agar dapat menyeimbangi kebutuhan tubuh.

Wortel merupakan salah satu buah yang banyak digunakan sebagai sumber vitamin A. Kandungan beta karoten yang dapat diubah menjadi vitamin A pada wortel ini dapat mencegah kekurangan asupan vitamin A pada mata. Selain wortel, sayuran hijau juga banyak digunakan sebagai sumber vitamin. sayur- sayuran yang digunakan sebagai sumber vitamin ini telah banyak diketahui, namun tidak banyak yang mengetahui bahwa kelor atau yang dikenal dengan nama latin Moringa oleifera juga dapat dimasukan sebagai sumber vitamin A yang bagus untuk kesehatan mata. Tumbuhan ini banyak tumbuh liar pada daerah-daerah dengan intensitas curah hujan sedang atau tropis. Pengetahuan masyarakat mengenai manfaat kelor terbatas pada fosfor nya saja.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah pada makalah ini yaitu :

  1. Bagaimana susunan klasifikasi dan morfologi tumbuhan kelor & wortel?
  2. Apa saja Kandungan kimia dalam kelor& wortel serta kandungan yang sama pada masing-masing tumbuhan?
  3. Apa penyakit rabun senja itu?
  4. Apa penyebab rabun senja ?
  5. Bagaimana vitamin A mengobati rabun senja?
  6. Bagaimana mengelola wortel dan kelor secara tradisional untuk konsumsi vitamin A sehari-hari?

1.3 TUJUAN

Adapun tujuan yang ingin dicapai, yaitu :

  1. Dapat menjelaskan susunan klasifikasi dan morfologi kelor & wortel
  2. Dapat menjabarkan kandungan kimia dalam wortel & kelor, serta kesamaan kandungan pada ketiga tumbuhan.
  3. Dapat menjelaskan penyakit rabun senja.
  4. Dapat menjelaskan penyebab rabun senja
  5. Dapat menjelaskan proses vitamin A dalam mengobati rabun senja.
  6. Dapat memberikan cara pengolahan wortel dan kelor secara tradisional untuk konsumsi vitamin A sehari-hari.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Susunan Klasifikasi & Morfologi

Wortel
Daucus carota L.

 

Asal :

Wortel atau Carrot (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia,melainkan berasal dari luar negeri yang beriklim sedang (sub tropis). Menurut sejarahnya, tanaman wortel berasal dari Timur Dekat dan Asia Tengah. Tanaman ini ditemukan tumbuh liar sekitar 6.500 tahun yang lalu.

Ekologi :

Wortel umumnya ditanam di dataran tinggi pada ketinggian antara 1000-1200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun demikian wortel dapat pula ditanam di dataran medium yang ketinggiannya lebih dari 500 mdpl, namun produksidan kualitasnya kurang memuaskan. Tanaman wortel membutuhkan lingkungan tumbuh yang suhu udaranya dingin dan lembab. Untuk pertumbuhan dan produksi umbi yang optimal membutuhkan suhu udara antara 15,6° – 21,1°C. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada keasaman tanah (pH) antara 5,5-6,5 untuk hasil optimal diperlukan pH 6,0-6,8.

Klasifikasi :

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Apiales
Famili: Apiaceae
Genus: Daucus
Spesies: Daucus carota L.

Morfologi :

 

1)      Daun

Daun wortel bersifat majemuk menyirip ganda dua atau tiga, anak-anak daun berbentuk lanset (garis-garis). Setiap tanaman memiliki 5-7 tangkai daun yang berukuran agak panjang. Tangkai daun kaku dan tebal dengan permukaan yang halus, sedangkan helaian daun lemas dan tipis.

2)      Batang.

Batang tanaman wortel sangat pendek sehingga hampir tidak nampak, batang bulat, tidakberkayu, agak keras, dan berdiameter kecil (sekitar 1-1,5 cm). Pada umumnya batang berwarna hijau tua. Batang tanaman tidak bercabang, namun ditumbuhi oleh tangkaidaun yang berukuran panjang, sehingga kelihatan seperti bercabang.

3)      Akar.

Tanaman wortel memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Dalam pertumbuhannya akar tunggang akan mengalami perubahan bentuk dan fungsi menjadi tempat penyimpanan cadangan makanan. Bentuk akar akan berubah menjadi besar dan bulat memanjang, hingga mencapai diameter 6 cm dan panjang sampai 30 cm, tergantung varietasnya. Akar tunggang yang telah berubah bentuk dan fungsi inilah yang sering disebut atau dikenal sebagai “Umbi Wortel”.

4)      Bunga.

Bunga tanaman wortel tumbuh pada ujung tanaman, berbentuk payung berganda, dan berwarna putih atau merah jambu agak pucat. Bunga memiliki tangkai yang pendek dan tebal. Kuntum-kuntum bunga terletak pada bidang yang sama. Bunga wortel yang telah mengalami penyerbukan akan menghasilkan buah dan biji-biji yang berukuran kecil dan berbulu.

5)      Umbi.

Wortel merupakan tanaman sayuran umbi semusim, berbentuk semak yang dapat tumbuh sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun kemarau. Batangnya pendek dan berakar tunggang yang fungsinya berubah menjadi bulat dan memanjang. Warna umbi kuning kemerah-merahan, mempunyai karoten A yang sangat tinggi, Umbi wortel juga mengandung vitamin B, Vitamin c dan mineral.

Pada awalnya hanya dikenal beberapa varietas wortel, namun dengan berkembangnya peradaban manusia dan teknologi, saat ini telah ditemukan varietas-varietas baru yang lebih unggul daripada generasi-generasi sebelumnya. Varietas-varietas wortel terbagi menjadi tiga kelompok yang didasarkan pada bentuk umbi, yaitu tipe Imperator, Chantenay, dan Nantes.

  • Tipe Imperator memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing (menyerupai kerucut), panjang umbi 20-30 cm, dan rasa yang kurang manis sehingga kurang disukai oleh konsumen.
  • Tipe Chantenay memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung tumpul, panjang antara 15-20 cm, dan rasa yang manis sehingga disukai oleh konsumen.
  • Tipe Nantes memiliki umbi berbentuk peralihan antara tipe Imperator dan tipe Chantenay, yaitu bulat pendek dengan ukuran panjang 5-6 cm atau berbentuk bulat agak panjang dengan ukuran panjang 10-15 cm.

Dari ketiga kelompok tersebut, varietas yang termasuk ke dalam kelompok chantenay yang dapat memberikan hasil (produksi) paling baik, sehingga paling banyak dikembangkan.

Kandungan Zat Aktif :

Tabel Nilai Kandungan gizi Wortel per 100 g

Kandungan zat gizi Jumlah
Energi 41 kkal
Karbohidrat 9 gr
Gula 5 gr
Niacin (Vit. B3) 1,2 mg (8%)
Vitamin B6 0,1 mg (8%)
Folat (Vit. B9) 19 mg (5%)
Diet serat 3 g
Lemak 0,2 g
Vitamin C 7 mg (12%)
Kalsium 33 mg (3%)
Protein 1 g
Vitamin A 835 mg (93%)
Besi 0,66 mg (5%)
Magnesium 18 mg (5%)
Beta-karoten 8285 mg (77%)
Fosfor 35 mg (5%)
Thiamine (Vit. B1) 0,04 mg (3%)
Kalium 240 mg (5%)
Riboflavin (Vit. B2) 0,05 mg (3%)
Sodium 2,4 mg (0%)


Kelor
Moringa oleifera Lam

Klasifikasi :
Kingdom         :           Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    :           Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    :           Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               :           Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               :           Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas        :           Dilleniidae
Ordo                :           Capparales
Famili              :          
Moringaceae
Genus              :          
Moringa
Spesies            :           Moringa oleifera Lam

 

Morfologi :

1)  Akar (radix)

Akar tunggang, berwarna putih. Kulit akar berasa dan berbau tajam dan pedas, dari dalam berwarna kuning pucat, bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Tidak keras, bentuk tidak beraturan, permukaan luar kulit agak licin, permukaan dalam agak berserabut, bagian kayu warna cokelat muda, atau krem berserabut, sebagian besar terpisah. Akar tunggang berwarna putih, membesar seperti lobak.

Biji yang ditanam akan mengembang menjadi bonggol, membengkak, akar tunggang berwarna putih dan memiliki bau tajam yang khas. Pohon tumbuh dari biji akan memiliki perakaran yang dalam, membentuk akar tunggang yang lebar dan serabut yang tebal. Akar tunggang tidak terbentuk pada pohon yang diperbanyak dengan stek.

2)  Batang (caulis)

Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 – 12 meter. Merupakan tumbuhan yang berbatang dan termasuk jenis batang berkayu, sehingga batangnya keras dan kuat. Bentuknya sendiri adalah bulat (teres) dan permukaannya kasar.Arah tumbuhnya lurus ke atas atau biasa yang disebut dengan tegak lurus (erectus). Percabangan pada batangnya merupakan cara percabangan simpodial dimana batang pokok sukar ditentukan, karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya atau kalah besar dan kalah cepat pertumbuhannya dibandingkan cabangnya. Arah percabangannya tegak (fastigiatus) karena sudut antara batang dan cabang amat kecil, sehingga arah tumbuh cabang hanya pada pangkalnya saja sedikit lebih serong ke atas, tetapi selanjutnya hampir sejajar dengan batang pokoknya.

3)  Daun (folium)

Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda – setelah dewasa hijau tua, bentuk helai daun bulat telur, panjang 1 – 2 cm, lebar 1 – 2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus.

Merupakan jenis daun bertangkai karena hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja. Tangkai daun berbentuk silinder dengan sisi atas agak pipih, menebal pada pangkalnya dan permukaannya halus. Bangun daunnya berbentuk bulat atau bundar (orbicularis), pangkal daunnya tidak bertoreh dan termasuk ke dalam bentuk bangun bulat telur.

 Ujung dan pangkal daunnya membulat (rotundatus) diamana ujungnya tumpul dan tidak membentuk sudut sama sekali, hingga ujung daun merupakan semacam suatu busur.

Susunan tulang daunnya menyirip (penninervis), dimana daun kelor mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan tangkai daun. Selain itu, dari ibu tulang itu ke arah samping keluar tulang–tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan kita kepada susunan sirip – sirip pada ikan. Kelor mempunyai tepi daun yang rata (integer) dan helaian daunnya tipis dan lunak. Berwarna hijau tua atau hijau kecoklatan, permukaannya licin(laevis) dan berselaput lilin (pruinosus). Merupakan daun majemuk  menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna.

4)  Bunga

Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas.  Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan terkumpul dalam pucuk lembaga di bagian ketiak dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Malai terkulai 10 – 15 cm, memiliki 5 kelopak yang mengelilingi 5 benang sari dan 5 staminodia. Bunga Kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak.

5)  Buah atau Polong

Kelor berbuah setelah berumur 12 – 18 bulan. Buah atau polong Kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa) dengan panjang 20 – 60 cm, ketika muda berwarna hijau – setelah tua menjadi cokelat, biji didalam polong berbentuk bulat, ketika muda berwarna hijau terang dan berubah berwarna coklat kehitaman ketika polong matang dan kering. Ketika kering polong membuka menjadi 3 bagian. Dalam setiap polong rata-rata berisi antara 12 dan 35 biji.

6)  Biji

Biji berbentuk bulat dengan lambung semi-permeabel berwarna kecoklatan.  Lambung sendiri memiliki tiga sayap putih yang menjalar dari atas ke bawah.  Setiap pohon dapat menghasilkan antara 15.000 dan 25.000 biji/tahun. Berat rata-rata per biji adalah 0,3 g.

Ekologi :

Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu tumbuhan yang umumnya dapat hidup dengan baik di daerah tropis dengan kadar ph yang rendah dimana memiliki suasan asam yaitu ph kurang dari 3. Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m dpl.

 

Kandungan Zat Aktif :

Daun Kelor Segar

Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa daun kelor mempunyai kandungan asam amino dan vitamin yang lengkap serta kandungan mineral yang tinggi. Kandungan gizi daun kelor segar (lalapan),  setara dengan; 4x vitamin A yang dikandung wortel,  7x vitamin C yang terkandung pada jeruk, 4x mineral Calsium dari susu, 3x mineral Potassium pada pisang, 3/4x zat besi pada bayam, dan 2x protein dari yogurt. 

Daun Kelor Kering

Apabila daun kelor dikeringkan (di dalam ruangan) dan ditumbuk, maka nutrisinya dapat meningkat berkali-kali lipat, kecuali kandungan vitamin C-nya. Adapun perbandingan kandungan gizi daun kelor segar dengan yang dikeringkan adalah sebagai berikut :

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A.    Vitamin

Vitamin A (Alpha & Beta-carotene), B, B1, B2, B3, B5, B6, B12, C, D, E, K, folat (asam folat), Biotin.

B.     Mineral

Kalsium, Kromium, Tembaga, Fluorin, Besi, Mangan, Magnesium, Molybdenum, Fosfor, Kalium, Sodium, Selenium, Sulphur, Zinc.

C.    Asam Amino Esensial

Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin.

 

D.    Asam Amino Non-Esensial

Alanin, Arginine, asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine.

E.     Anti-inflammatory

Vitamin A, Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6, Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile, Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine, Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan, Tyrosine, Zeatin, Zinc.

 

Kesamaan Zat Aktif :

Baik pada wortel dan juga kelor, sama-sama memiliki ; vitamin A,  B1, B2, B3, C, kalsium, magnesium dan fosfor. Namun pada makalah ini yang dititik beratkan pada kandungan vitamin A pada kedua jenis tumbuhan ini.

 


A.  Rabun Senja.

1.      Pengertian

     Rabun senja (nyctalopia) adalah gangguan penglihatan kala senja atau malam hari, atau pada keadaan cahaya remang-remang. 

2.      Penyebab

Rabun senja terjadi karena kerusakan sel retina yang semestinya bekerja saat melihat benda pada lingkungan minim cahaya. Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan sel tersebut, tetapi yang paling sering akibat dari kekurangan vitamin A.

3.      Terjadinya Rabun Senja

 Pada mata normal terdapat pigmen yang dikenal bernama rodopsinatau visual puple. Pigmen tersebut mengandung vitamin A yang terikat pada protein. Jika mata menerima cahaya, maka akan terjadi konversi rodopsin menjadi visual yellow dan kemudian visual white. Pada konversi tersebut, dibutuhkan vitamin A.

Sementara regenerasi visual purple hanya akan terjadi bila tersedia vitamin A. Tanpa regenerasi, maka penglihatan pada cahaya remang setelah mata menerima cahaya akan terganggu. Jika terjadi kekurangan vitamin A, maka gejala awal adalah terjadinya rabun senja. Artinya, mata akan mengalami gangguan ketika berpindah dari tempat banyak cahaya ke tempat gelap.

Itulah yang membuat rabun senja hanya terjadi ketika matahari mulai terbenam. Sesuai dengan namanya, penyakit ini tidak bisa dikoreksi dengan kacamata dan terjadi jika sel-sel saraf pembeda terang-gelap di retina mata terganggu.

 

 

 

4.      Penyembuhan .

Untuk pencegahan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A setiap harinya. Untuk pengobatan, dapat disembuhkan dengan pemberian vitamin A, namun  untuk rabun senja dengan defisiensi yang lebih sulit untuk diobati. Untuk defisiensi yang lebih diberikan vitamin A secara injeksi sebanyak 100.000 unit untuk satu kali pemberian.

B.     Bagaimana Vitamin A mengobati penyakit Rabun ayam.

Vitamin A pada makanan awalnya berada dalam bentuk retinol ester dan sebelum diserap dalam pencernaan diubah menjadi retinol. Dari mukosa sel retinol tersebut diesterfikasi[1] kembali, kemudian diangkut oleh khilomikron,[2] dibawa ke hati untuk disimpan.

 Bentuk aktif vitamin A sebagian berupa asam retinoat yang akan berperan dalam ekspresi gen. Di retina mata, retinol ini diubah menjadi 11 cis retinal-dehida yang mampu berkonyugasi dengan opsin membentuk rhodopsin yang berperan dalam proses penglihatan. Maka, mata memang sangat membutuhkan kehadiran vitamin A.

C.    Pengolahan wortel & kelor tradisional untuk mengobati rabun senja.

Kelor :Tiga tangkai daun kelor ditumbuk halus, seduh dengan 1 cangkir air masak dan disaring, campurkan dengan madu dan aduk sampai merata, minum sebelum tidur. Selain itu kelor pula dapat di makan sebagai lalapan dan juga dijadikan sayur mayur pendamping nasi.

Wortel : dapat dimakan langsung atau di jus, kandungan vitamin nya tetap. Selain itu dapat diolah menjadi sayur.


D.    Penyebab Kandungan Kelor dan Wortel sama :

Bila ditilik kembali kesamaan kandungan kimia dari kedua tumbuhan ini yaitu terletak pada kandungan vitamin nya. Penyebab terdapat kesamaan zat aktif (vitamin A) pada wortel dan kelor, yaitu karena metabolik primer tumbuhan. Metabolik primer adalah unsur esensial yang digunakan untuk pertumbuhan. Metabolik primer menghasilkan produk anabolik dan produk katabolik. Vitamin merupakan produk anabolik. Metaabolik primer terdapat disemua tumbuhan sebagai kandungan dasar yang bila tidak ada dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan. Berhubung dengan hal ini, vitamin A yang terdapat pada kelor dan wortel merupakan contoh dari metabolik primer yang terdapat pada tumbuhan.


BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil :

1.      Pada susunan taksonomi, kelor dan wortel berada pada divisi, super divisi dan kelas yang sama, yaitu untuk divisi magnoliophyta (tumbuhan berbunga), super divisi spermatophyta (menghasilkan biji), dan kelas magnoliopsida (berkeping dua).

2.      Kesamaan morfologi wortel dna juga kelor yaitu terletak pada daun, dimana sama-sama berdaun majemuk, dan tulang daun menyirip.

3.      Rabun senja yaitu penyakit ketidak mampuan mata untuk melihat pada saat cahaya minim.

4.      Rabun senja di sebabkan oleh banyak faktor tetapi yang paling sering terjadi karena kekurangan vitamin A.

5.      Wortel dapat dibikin dalam bentuk jus atau dijadikan sebagai lalapan, sedangkan kelor dapat diserbuk dan diseduh layaknya teh


DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, Ahlul. 2011. http://world-of-green-plants.blogspot.com/2011/08/kelor-pucuk-sampai-akar-manjur.html

 

Kang Budi Kelor. 2009. http://kelorina.com/blog/tak-kenal-maka-tak-sayang/.

http://kelorina.com/manfaat/

http://kelorina.com/nutrisi/

Keliat, S. D. 2008. Analisis Sistem Pemasaran Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Manalu, H. 2007. Analisis Finansial Usaha Tani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Pohan, R. A. 2008. Analisis Usaha Tani dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Ridhilmila. 2012. http://myidea-ridhilmila.blogspot.com/2012/02/wortel.html.

Rini, D. K. 2010. Respon Penawaran Wortel (Daucus carota) Di Kabupaten Boyolali. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Simbolon JM, Sitorus M, Katharina N. 2008. Cegah Malnutrisi dengan Kelor. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Wakhid, Nur. 2012. http://papaji.forumotion.com/t11133-kelor-tumbuhan-ajaib


[1]Diesterifikasi adalah proses perubahan kembali dalam bentuk ester.

[2] kilomikron adalah suatu zat yang memiliki fungsi membawa energi dalam bentuk lemak ke otot.

 

A.    Vitamin

Vitamin A (Alpha & Beta-carotene), B, B1, B2, B3, B5, B6, B12, C, D, E, K, folat (asam folat), Biotin.

B.     Mineral

Kalsium, Kromium, Tembaga, Fluorin, Besi, Mangan, Magnesium, Molybdenum, Fosfor, Kalium, Sodium, Selenium, Sulphur, Zinc.

C.    Asam Amino Esensial

Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin.

 

D.    Asam Amino Non-Esensial

Alanin, Arginine, asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine.

E.     Anti-inflammatory

Vitamin A, Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6, Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile, Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine, Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan, Tyrosine, Zeatin, Zinc.

 

Kesamaan Zat Aktif :

Baik pada wortel dan juga kelor, sama-sama memiliki ; vitamin A,  B1, B2, B3, C, kalsium, magnesium dan fosfor. Namun pada makalah ini yang dititik beratkan pada kandungan vitamin A pada kedua jenis tumbuhan ini.

 


A.  Rabun Senja.

1.      Pengertian

     Rabun senja (nyctalopia) adalah gangguan penglihatan kala senja atau malam hari, atau pada keadaan cahaya remang-remang. 

2.      Penyebab

Rabun senja terjadi karena kerusakan sel retina yang semestinya bekerja saat melihat benda pada lingkungan minim cahaya. Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan sel tersebut, tetapi yang paling sering akibat dari kekurangan vitamin A.

3.      Terjadinya Rabun Senja

 Pada mata normal terdapat pigmen yang dikenal bernama rodopsinatau visual puple. Pigmen tersebut mengandung vitamin A yang terikat pada protein. Jika mata menerima cahaya, maka akan terjadi konversi rodopsin menjadi visual yellow dan kemudian visual white. Pada konversi tersebut, dibutuhkan vitamin A.

Sementara regenerasi visual purple hanya akan terjadi bila tersedia vitamin A. Tanpa regenerasi, maka penglihatan pada cahaya remang setelah mata menerima cahaya akan terganggu. Jika terjadi kekurangan vitamin A, maka gejala awal adalah terjadinya rabun senja. Artinya, mata akan mengalami gangguan ketika berpindah dari tempat banyak cahaya ke tempat gelap.

Itulah yang membuat rabun senja hanya terjadi ketika matahari mulai terbenam. Sesuai dengan namanya, penyakit ini tidak bisa dikoreksi dengan kacamata dan terjadi jika sel-sel saraf pembeda terang-gelap di retina mata terganggu.

 

 

 

4.      Penyembuhan .

Untuk pencegahan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A setiap harinya. Untuk pengobatan, dapat disembuhkan dengan pemberian vitamin A, namun  untuk rabun senja dengan defisiensi yang lebih sulit untuk diobati. Untuk defisiensi yang lebih diberikan vitamin A secara injeksi sebanyak 100.000 unit untuk satu kali pemberian.

B.     Bagaimana Vitamin A mengobati penyakit Rabun ayam.

Vitamin A pada makanan awalnya berada dalam bentuk retinol ester dan sebelum diserap dalam pencernaan diubah menjadi retinol. Dari mukosa sel retinol tersebut diesterfikasi[1] kembali, kemudian diangkut oleh khilomikron,[2] dibawa ke hati untuk disimpan.

 Bentuk aktif vitamin A sebagian berupa asam retinoat yang akan berperan dalam ekspresi gen. Di retina mata, retinol ini diubah menjadi 11 cis retinal-dehida yang mampu berkonyugasi dengan opsin membentuk rhodopsin yang berperan dalam proses penglihatan. Maka, mata memang sangat membutuhkan kehadiran vitamin A.

C.    Pengolahan wortel & kelor tradisional untuk mengobati rabun senja.

Kelor :Tiga tangkai daun kelor ditumbuk halus, seduh dengan 1 cangkir air masak dan disaring, campurkan dengan madu dan aduk sampai merata, minum sebelum tidur. Selain itu kelor pula dapat di makan sebagai lalapan dan juga dijadikan sayur mayur pendamping nasi.

Wortel : dapat dimakan langsung atau di jus, kandungan vitamin nya tetap. Selain itu dapat diolah menjadi sayur.


D.    Penyebab Kandungan Kelor dan Wortel sama :

Bila ditilik kembali kesamaan kandungan kimia dari kedua tumbuhan ini yaitu terletak pada kandungan vitamin nya. Penyebab terdapat kesamaan zat aktif (vitamin A) pada wortel dan kelor, yaitu karena metabolik primer tumbuhan. Metabolik primer adalah unsur esensial yang digunakan untuk pertumbuhan. Metabolik primer menghasilkan produk anabolik dan produk katabolik. Vitamin merupakan produk anabolik. Metaabolik primer terdapat disemua tumbuhan sebagai kandungan dasar yang bila tidak ada dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan. Berhubung dengan hal ini, vitamin A yang terdapat pada kelor dan wortel merupakan contoh dari metabolik primer yang terdapat pada tumbuhan.


BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil :

1.      Pada susunan taksonomi, kelor dan wortel berada pada divisi, super divisi dan kelas yang sama, yaitu untuk divisi magnoliophyta (tumbuhan berbunga), super divisi spermatophyta (menghasilkan biji), dan kelas magnoliopsida (berkeping dua).

2.      Kesamaan morfologi wortel dna juga kelor yaitu terletak pada daun, dimana sama-sama berdaun majemuk, dan tulang daun menyirip.

3.      Rabun senja yaitu penyakit ketidak mampuan mata untuk melihat pada saat cahaya minim.

4.      Rabun senja di sebabkan oleh banyak faktor tetapi yang paling sering terjadi karena kekurangan vitamin A.

5.      Wortel dapat dibikin dalam bentuk jus atau dijadikan sebagai lalapan, sedangkan kelor dapat diserbuk dan diseduh layaknya teh


DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, Ahlul. 2011. http://world-of-green-plants.blogspot.com/2011/08/kelor-pucuk-sampai-akar-manjur.html

 

Kang Budi Kelor. 2009. http://kelorina.com/blog/tak-kenal-maka-tak-sayang/.

http://kelorina.com/manfaat/

http://kelorina.com/nutrisi/

Keliat, S. D. 2008. Analisis Sistem Pemasaran Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Manalu, H. 2007. Analisis Finansial Usaha Tani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Pohan, R. A. 2008. Analisis Usaha Tani dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Ridhilmila. 2012. http://myidea-ridhilmila.blogspot.com/2012/02/wortel.html.

Rini, D. K. 2010. Respon Penawaran Wortel (Daucus carota) Di Kabupaten Boyolali. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Simbolon JM, Sitorus M, Katharina N. 2008. Cegah Malnutrisi dengan Kelor. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Wakhid, Nur. 2012. http://papaji.forumotion.com/t11133-kelor-tumbuhan-ajaib


[1]Diesterifikasi adalah proses perubahan kembali dalam bentuk ester.

[2] kilomikron adalah suatu zat yang memiliki fungsi membawa energi dalam bentuk lemak ke otot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s